Sumber:http://kesehatan.kompas.com/read/2009/11/04/11123425/Bunga.Kamboja..Penyegar.bagi.Penyandang.Autis/all
Rabu, 4 November 2009 | 11:12 WIB
KOMPAS.com — Bunga kamboja banyak dijumpai di areal pemakaman. Di Bali, bunga ini banyak dipakai sebagai pelengkap untuk acara keagamaan. Dipadu dengan bunga lotus, bunga kamboja memiliki efek positif bagi anak-anak autis.
Bunga kamboja (Plumeria acuminata ait) bisa ditemui dalam beberapa warna. Selain putih, ada pula kamboja warna merah atau kuning. Bunga ini berasal dari jenis pohon bercabang banyak. Dengan tinggi yang beragam, mulai tiga sampai tujuh meter, pohon kamboja terkenal banyak getahnya.
Uniknya, selain batang pokoknya besar, terkadang pohon ini tumbuh membengkok dengan kayu keras, dan cabang-cabang gemuk berdaging. Pada cabang yang masih muda dan lunak sering ditemui tangkai daun yang terlepas. Daunnya pun tumbuh tunggal, memiliki tangkai panjang, dan bergerombol di ujung dahannya. Bentuk daun rata-rata runcing dan kaku. Panjangnya antara 20-40 cm, lebar 6-12,5 cm.
Bunga kamboja yang juga disebut bunga sam oja (Sunda), cempaka kubur (Sumatera), atau bunga jabun (Bali) ini dikembangbiakkan dengan stek batang atau biji. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropis, biasa ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan, taman-taman, kuburan, atau tumbuh liar. Pohon kamboja bisa ditemukan pada dataran berketinggian 1-700 meter di atas permukaan laut.
Untuk gangguan psikis
Untuk pengobatan alternatif, mulai dari daun hingga bagian lainnya (cabang, ranting, dan pohon), dipercayai bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Keharuman bunga kamboja sendiri diyakini sanggup memberikan kesejukan bagi pemilik atau yang sekadar memetiknya. Karena itu, menurut Tom Suhalim, seorang pakar energi bunga dan ahli penyembuhan melalui aura manusia, bunga kamboja dinilai menyimpan efek aromaterapi yang bermanfaat bagi anak penyandang autis.
"Dipadu dengan bunga lotus, bunga kamboja bisa menjadi aromatherapy untuk anak-anak autis. Bisa ditaruh ruangan belajar atau kelas khusus untuk anak-anak autis yang sedang belajar," jelas Tom Suhalim.
Pendapat itu dibenarkan oleh Dr Amarullah H Siregar, DIHom, DNMed, MSc, PhD, ahli naturopati di Jakarta. Bunga kamboja, katanya, lebih dikenal sebagai eternal parfum sehingga bunganya sering diindikasikan sesuai untuk menangani kasus-kasus yang mengarah pada gangguan psikis, seperti kelelahan mental, relaksasi pada lelah fisik, agresivitas berlebihan, dan juga sebagai obat penenang. Namun diingatkan, efek yang diperoleh sangat bersifat individual dan tergantung status medis orang per orang.
"Secara ilmiah, kegunaan bunga kamboja secara langsung belum ada penelitian. Tetapi sebagai preparat medis, yang sering digunakan adalah getahnya. Yaitu untuk bisul, pembengkakan pada kaki, sakit gigi, edema, gangguan buang air kecil, pencahar, diare, dan batu," jelas Dr Siregar.
Dr Siregar juga menambahkan, karena sifatnya sangat terapeutik, maka dosis penggunaan sangat individual. Tergantung kasus penyakit yang mendasari. Bahkan, menurutnya, pada dosis yang tidak sesuai atau berlebih bisa bersifat toksik atau racun.
Radang dan kapalan
Menurut berbagai literatur, efek lain yang bisa didapatkan bila kita mengolah bunga kamboja untuk obat ialah sebagai penurun panas (antipiretik), peluruh kencing (diuretik), menghentikan batuk (antitusif), dan menghilangkan hawa panas. Sedangkan kulit kayu pohon kamboja dipercaya bisa melancarkan buang air besar bagi mereka yang sembelit. Caranya adalah dengan mengeringkan atau menjemur bunga, getah, daun, kulit batang atau akarnya.
Profesor Hembing Wijayakusuma sendiri dalam bukunya Tumbuhan Berkhasiat Obat Indonesia, seluruh bagian pohon kamboja memang bermanfaat untuk pengobatan, antara lain, bisa untuk mencegah pingsan, radang usus; disentri basiler; gangguan pencernaan; gangguan penyerapan makanan pada anak; radang hati; radang saluran napas, jantung berdebar, TBC, cacingan, sembelit, kencing nanah, beri-beri, kapalan, kaki pecah-pecah, sakit gigi, tertusuk duri atau beling, bisul, dan patekan. @ Suharso Rahman
Diet Khusus Belum Terbukti Efektif untuk Anak Autis
Sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/05/11234156/Diet.Khusus.Belum.Terbukti.Efektif.untuk.Anak.Autis/all
Selasa, 5 Januari 2010 | 11:23 WIB
KOMPAS.com - Para pakar autisme menyatakan, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menguatkan teori yang menyebutkan bahwa diet khusus mampu mengurangi gangguan perilaku anak-anak autisme.
"Sampai saat ini belum ada rekomendasi bukti ilmiah," tulis para pakar yang tergabung dalam konsorsium pemerhati autis, seperti The Autism Society of America dan The Autism Research Institute dalam jurnal Pediatrics.
"Meski begitu dokter dan orangtua anak autis harus menyadari bahwa masalah perilaku yang dialami anak-anak autis mungkin dipicu oleh kondisi medis lain yang tersembunyi, misalnya masalah pencernaan," tambahnya.
Pernyataan yang dikeluarkan para pakar itu menuai kontroversi karena sebelumnya berbagai laporan media dan buku menyebutkan bahwa diet khusus mampu mengurangi gangguan perilaku, seperti sikap hiperaktif yang kerap dialami anak autis. Anak-anak autis kerap kali mengalami berbagai masalah terkai
...masalah perilaku yang dialami anak-anak autis mungkin dipicu oleh kondisi medis lain yang tersembunyi, misalnya masalah pencernaan
t dengan pencernaannya, seperti sembelit, diare, atau perut kembung.
"Masalahnya anak-anak autis tidak bisa menjelaskan rasa sakit yang dialaminya karena mereka tak bisa berkomunikasi verbal. Akibatnya mereka menjadi agresif atau tantrum, bahkan melukai diri sendiri saat sakit. Sehingga orang lebih memfokuskan pada gangguan perilaku ini tanpa menyadari rasa sakit yang dialami anak," kata Geraldine Dawson, kepala riset Autism Speak, salah satu organisasi orangtua anak autisme, menanggapi pernyataan para pakar.
Para pakar autism mengatakan, diet khusus yang mungkin berhasil pada beberapa anak bukan berarti bisa diterapkan untuk seluruh anak autis. Hal ini karena belum ada bukti ilmiah bahwa metode diet tertentu efektif untuk kelompok anak autis.
Bila orangtua ingin mencoba metode diet tertentu untuk anaknya, para ahli menyarankan agar berkonsultasi pada profesional agar tidak terjadi kekurangan gizi.
Dawson mengatakan setuju dengan para pakar. "Selama ini orangtua selalu mencari jawaban yang sederhana, apakah metodi ini berhasil atau tidak. Padahal, faktanya dalam autisme tidak pernah ada yang sederhana," katanya.
Saat ini beberapa studi dan penelitian sedang dilakukan dan direncanakan selesai dalam tahun depan mengenai metode diet yang efektif untuk anak-anak autis. Sambil menunggu rekomendasi tersebut, para orangtua diingatkan bahwa keberhasilan seseorang dalam penanganan autis dikaitkan dengan pola makan, sifatnya individual.
Selasa, 5 Januari 2010 | 11:23 WIB
KOMPAS.com - Para pakar autisme menyatakan, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menguatkan teori yang menyebutkan bahwa diet khusus mampu mengurangi gangguan perilaku anak-anak autisme.
"Sampai saat ini belum ada rekomendasi bukti ilmiah," tulis para pakar yang tergabung dalam konsorsium pemerhati autis, seperti The Autism Society of America dan The Autism Research Institute dalam jurnal Pediatrics.
"Meski begitu dokter dan orangtua anak autis harus menyadari bahwa masalah perilaku yang dialami anak-anak autis mungkin dipicu oleh kondisi medis lain yang tersembunyi, misalnya masalah pencernaan," tambahnya.
Pernyataan yang dikeluarkan para pakar itu menuai kontroversi karena sebelumnya berbagai laporan media dan buku menyebutkan bahwa diet khusus mampu mengurangi gangguan perilaku, seperti sikap hiperaktif yang kerap dialami anak autis. Anak-anak autis kerap kali mengalami berbagai masalah terkai
...masalah perilaku yang dialami anak-anak autis mungkin dipicu oleh kondisi medis lain yang tersembunyi, misalnya masalah pencernaan
t dengan pencernaannya, seperti sembelit, diare, atau perut kembung.
"Masalahnya anak-anak autis tidak bisa menjelaskan rasa sakit yang dialaminya karena mereka tak bisa berkomunikasi verbal. Akibatnya mereka menjadi agresif atau tantrum, bahkan melukai diri sendiri saat sakit. Sehingga orang lebih memfokuskan pada gangguan perilaku ini tanpa menyadari rasa sakit yang dialami anak," kata Geraldine Dawson, kepala riset Autism Speak, salah satu organisasi orangtua anak autisme, menanggapi pernyataan para pakar.
Para pakar autism mengatakan, diet khusus yang mungkin berhasil pada beberapa anak bukan berarti bisa diterapkan untuk seluruh anak autis. Hal ini karena belum ada bukti ilmiah bahwa metode diet tertentu efektif untuk kelompok anak autis.
Bila orangtua ingin mencoba metode diet tertentu untuk anaknya, para ahli menyarankan agar berkonsultasi pada profesional agar tidak terjadi kekurangan gizi.
Dawson mengatakan setuju dengan para pakar. "Selama ini orangtua selalu mencari jawaban yang sederhana, apakah metodi ini berhasil atau tidak. Padahal, faktanya dalam autisme tidak pernah ada yang sederhana," katanya.
Saat ini beberapa studi dan penelitian sedang dilakukan dan direncanakan selesai dalam tahun depan mengenai metode diet yang efektif untuk anak-anak autis. Sambil menunggu rekomendasi tersebut, para orangtua diingatkan bahwa keberhasilan seseorang dalam penanganan autis dikaitkan dengan pola makan, sifatnya individual.
Langganan:
Postingan (Atom)
